Kamis, 13 Oktober 2011

STANDARISASI...sebuah Filosofi

Beberapa tahun yang lalu majalah “Le Courrier de la Normalisation”, majalah
Standardisasi AFNOR (Association Francaise de Normalisation) menerbitkan sebuah karangan oleh M. Romieu dengan judul “La Normalisation, c’est elle une humanisme?” (Apakah standardisasi itu suatu kemanusiaan?). Dalam karangan tersebut penulis mengemukakan bahwa misi standardisasi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dapat ditambahkan bahwa sebagaimana halnya dengan humanisme, ia terdiri dari sistem gagasan berdasarkan kebutuhan dan harapan manusia, dan standardisasi mencoba untuk menjawab tantangan ini.

Memang, jika kita membahas kualitas atau mutu, pertama-tama harus dicamkan kualitas hidup masyarakat/manusia, karena tanpa hal ini standardisasi dan kualitas hanya merupakan wacana belaka. Pada tahun 1994 dalam seminar yang diselenggarakan oleh ISO dan IRAM di Argentina, salah satu wakil dari ISO mengusulkan bahwa standardisasi dan kualitas harus didasarkan pada sedikit-dikitnya dua tonggak dasar yaitu etika dan kebudayaan. Jika kita sepakat bahwa dua pendapat tersebut merupakan suatu kebenaran,maka tiga konsep falsafah dasar yang terkait erat dengan standardisasi yaitu: kualitas hidup yang lebih baik, etika dan kebudayaan, harus ditanamkan pada manusia sejak dini, mulai dari massa kanak-kanak hingga dewasa. Terutama ketika mereka mulai memegang peran dalam masyarakat sebagai orang tua, guru, karyawan atau peran lain tertentu dalam kehidupan.

Semua tipe standar yang dikembangkan, diterbitkan dan diterapkan oleh organisasi nasional, regional, internasional atau asosiasi, bermanfaat untuk membangun suatu budaya berbasis - konsensus yang bersifat universal dan bertujuan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk saling berkomunikasi, meningkatkan dan memperbaiki saling pengertian antar masyarakat, meningkatkan kualitas hidup atau memfasilitasi perdagangan.

Semua standar yang mencakup definisi, lambang, satuan ukuran, metode gambar, spesifikasi produk, sistem manajemen, metode uji dan metoda analisa, metode pengambilan contoh, standar produk, proses dan jasa, kualitas dan keselamatan, bila diterapkan dengan benar akan menghasilkan sesuatu bagi masyarakat, konsumen dan pemakai yang seharusnya lebih baik dan lebih handal. Standar juga dapat dijadikan bahan pembelajaran dan pelatihan bagi sumber daya manusia atau digunakan untuk meningkatkan pemahaman pengetahuan teknis, alih teknologi, landasan untuk inovasi.

Salah satu contoh yang jelas adalah peningkatan kualitas hidup terkait dengan standar yang mencakup aspek yang berkaitan langsung dengan hajat hidup masyarakat seperti standar di bidang K3L (kesehatan, keselamatan, keamanan dan lingkungan hidup), standar di bidang ergonomi, lingkungan hidup, pangan, kesehatan, keamanan dan bahan-bahan berbahaya. Tujuan utama dari standar tersebut adalah agar manusia dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka dengan menekan kemungkinan terjadinya kerugian, ketidaknyamanan atau ketidak amanan penggunaan produk atau jasa di masa sekarang atau mendatang.

Bila kita pelajari dengan seksama dan menghayati ayat-ayat seperti tercantum di bawah ini yang juga dikemukakan di semua buku suci agama telah membuktikan bahwa sesungguhnya falsafah standardisasi telah di “wahyukan” ribuan tahun yang lalu. Hanya kitalah yang kurang menyimak dan memaknainya. Allah SWT memerintahkan pada umat manusia agar tidak melakukan kecurangan pada sukatan dan timbangan sebagaiman
firman Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Muthafifin (1-3 dan 4-6):
Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima sukatan dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila menyukat
atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu mengira
bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari besar, pada hari
manusia berdiri dihadapan Tuhan semesta alam
”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar