Selasa, 18 Oktober 2011

Strategi Pengabsahan Metode Analisis


Keabsahan suatu metode spesifik harus diperagakan dalam suatu laboratorium uji menggunakan contoh atau standar yang sesuai
  1. Siapkan protokol validasi atau prosedur operasi untuk kegiatan validasi
  2. Tentukan tujuan, dan ruang lingkup penggunaan dari metode
  3. Tentukan parameter kinerja metode dan kriteria penerimaan
  4. Tentukan waktu percobaan validasi
  5. Periksa relevansi karakteristik dari peralatan
  6. Siapkan bahan yang memenuhi syarat, misal: standard an pereaksi
  7.  Lakukan pra-validasi
  8. Jika diperlukan tentukan  kembali parameter kinerja metode dan/atau kriteria penerimaan
  9. Lakukan pengujian validasi sebenarnya
  10. Kembangkan Prosedur Operasi Baku untuk dilakukan sebagai kegiatan rutin
  11. Tentukan kriteria untuk validasi ulang
  12. Tentukan tipe dan frekuensi pengujian kecocokan sistem dan atau pemeriksaan pengawasan kualitas analisis untuk dilakukan secara rutin
  13. Dokumentasikan hasil dalam suatu Laporan Validasi

Senin, 17 Oktober 2011

KUMITE

KIHON IPPON KUMITE (Pertarungan Dasar Satu Langkah)
Metode ini dimulai dengan perintah “Yoi” ( siap ), kedua pasangan menggerakkan kaki kanan, bergerak hingga membentuk sikap Hachiji-Dachi (kaki tebuka, jarak antara tumit selebar bahu, ujung kaki membentuk sudut 45ยบ ). Karateka yang menyerang pertama mengambil sikap Gedan-barai langkah belakang (kanan atau kiri, sesuai instruksi ) dan memberitahukan kecepatan, tingkat dan tehnik serangan. Karateka yang bertahan konsentrasi atau memikirkan tehnik tangkisan yang akan digunakan dan memberitahukan kepada karateka  penyerang dengan kata Osu! Karateka Penyerang harus memfokuskan serangan  kepada target yang telah ditentukan dengan semangat dan kontrol yang baik, menjamin bahwa tehnik telah dilakukan dengan baik (sikap, pernafasan dan Kime ). Karateka Bertahan harus memperlihatkan semangat dan control yang baik, menjamin pernafasan dan sikap telah dilakukan dengan baik, dan harus Kime saat menangkis sebelum melakukan  serangan balik. Kedua pasangan harus kembali pada posisi semula dan menyatakan Zansin (kesadaran penuh, kesiapan) hingga instruktur mengatakan Yame!(stop) dan Enyoi! ( istirahat ). Ketika latihan dengan pasangan, kita bertanggung jawab terhadap keselamatannya , control yang baik harus selalu dilatih.
Tujuan:
Mengarahkan karateka untuk melatih tehnik pukulan, tendangan, serangan dan tangkisan dengan musuh dan  merasakan melawan dengan tehink karate ketika berhadapan langsung dengan orang lain.Mendemonstrasikan pentingnya latihan tehnik jarak, waktu, gerakan dan kime yang baik

GO-HON KUMITE (Pertarungan Lima Langkah)
Metode ini dimulai seperti Kihon Ippon Kumite, tetapi karateka penyerang melakukan serangan lima langkah kedepan untuk mencapai wilayah sasaran/target, dan karateka bertahan melangkah mundur dan menangkis lima kali, setelah tangkisan kelima karateka bertahan melakukan serangan balik dengan Gyaku-zuki (berteriak “Kiai” ketika menyerang dengan kecepatan dan tenaga ). Go-hon Kumite selalu dilatih lamban dengan hitungan , cepat dengan hitungan dan kemudian cepat dan penuh tenaga tanpa hitungan. Ketika latihan cepat dan penuh tenaga, karateka penyerang tidak harus bergerak kedepan dengan irama, tetapi dia harus merencanakan serangannya untuk dapat merusak pertahanan karateka bertahan. Karateka bertahan dilarang bergerak mundur hingga serangan terjadi. Pada semua jenis Kumite, kedua pasangan  harus konsentrasi penuh dan latihan dengan serius, sebab jika kehilangan konsentrasi akan menyebabkan kecelakaan.
Tujuan
Tujuannya sama dengan Ippon Kumite. Kumite ini juga memberikan latihan kepada karateka dalam perubahan sikap, mengambil jarak sambil bergerak mundur dan mendemonstrasikan pentingnya sikap dan jarak yang baik disemua tehnik
.
SANBON KUMITE (Pertarungan Tiga Langkah).
Metode ini pada dasarnya sama dengan Go-hon Kumite, tetapi hanya tiga serangan. Sanbon Kumite juga dilatih mengunakan tiga tehnik serangan yang berbeda. Seperti Jodan, Chudan, dan Mae-geri or Jodan, Chudan dan Kekomi, dll. Karateka Bertahan harus melakukan tangkisan yang benar terhadap tehnik serangan yang digunakan dan serangan balik setelah tiga tangkisan.
Tujuan
Tujuannya sama dengan Go-hon Kumite, tetapi dengan menambah tekanan dalam latihan dan tingkat tehnik serangan dan tangkisan yang sulit. Hal ini untuk membantu meningkatkan “ Kemampuan Berfikir “, seperti reaksi, ingatan, konsentrasi, dll.

KEASHI IPPON KUMITE (Pertarungan Dua Langkah)
Metode ini dimulai dengan perintah “Yoi”. Kedua pasangan menggerakkan kaki kanan membentuk Hachiji-Dachi. Karateka yang menyerang pertama mengambil sikap gedan-barai mundur (kanan atau kiri sesuai dengan instruksi ) dan memberitahukan kecepatan , tingkat dan tehnik dalam menyerang. Karateka Bertahan konsentrasi atau memikirkan tehnik yang akan digunakan dan memberitahukan karateka Penyerang dengan kata Osu! Karateka Penyerang menetapkan wilayah sasaran dengan tehnik yang benar, sementara karateka Bertahan melangkah mundur untuk menangkis dan diselesaikan dengan sebuah serangan balik. Serangan harus difokuskan pada target sasaran dengan semangat dan control yang baik, menjamin bahwa melakukan tehnik dengan benar (jarak, pernafasan, dan kime ). Karateka Bertahan harus memperlihatkan semangat dan konrol yang baik, menjamin pernafasan dan sikapnya benar dan harus Kime dalam menangkis sebelum melangkah kedepan untuk melakukan serangan balik.
Tujuan
Mengajarkan Karateka untuk melatih tehnik pukulan, tendangan, serangan  dan tangkisan dengan musuh, sambil bergerak maju dan mundur dan membantu meningkatkan ketepatan waktu, jarak dan kesadaran penuh. Keashi Ippon Kumite memperkenalkan karateka untuk berfikir kapan dia melakukan pertahanan dan melakukan penyerangan

JIYU IPPON KUMITE (Pertarungan Semi Bebas)
Metode ini dimulai setelah kedua pasangan memberikan hormat dan perintah “Yoi”. Karateka mengambil sikap mundur gedan-barai dan memperagakan posisi gaya bebas ( Jiyu Kamae ). Dalam posisi gaya bebas ini, karateka tidak boleh tegang, tetapi dalam pertahanan, siap dan dapat merubah sikap, posisi badan bergerak, maju atau mundur dan dapat mempertahankan diri mereka dari segala serangan dengan menggunakan lengan dan kaki untuk melakukan tangkisan dan serangan. Jarak harus lebih pendek dari sikap normal kedepan, dengan kaki belakang sedikit menekuk dan berat badan bertumpu diantara kaki depan dan belakang menyebabkan badan maju dan mundur jadi lebih mudah dan cepat, meluruskan kaki yang menekuk akan menambah kecepatan dan jarak pergerakan badan.
Tangan harus selalu diposisinya dimana  akan melindungi atau menangkis serangan sambil melakukan pukulan atau serangan kepada musuh. Karateka yang bertahan berkonsentrasi atau memikirkan tehnik yang akan digunakan dan memberitahukannya dengan mengatakan Osh! Serangan harus difokuskan pada target sasaran dengan semangat dan control yang baik, memastikan bahwa tehnik telah dilakukan dengan benar ( Sikap, pernafasan, dan kime ). Karateka yang bertahan harus memperlihatkan semangat dan control yang tinggi saat melakukan tangkisan, memastikan pernafasan dan sikap saat menangkis dilakukan dengan benar dan harus kime sebelum melakukan serangan balik.
Tujuan
Pemperkenalkan karateka dengan keadaan pertarungan yang lebih realistis, pergerakan badan yang lebih (Tai-sabaki ). Memperkirakan Ma-A (jarak), menggunakan tekukan kaki untuk memudahkan badan melakukan gerakan maju atau mundur dengan jarak yang lebih jauh, ketepatan waktu, dan Zanshin ( penuh kesadaran dan control yang menyeluruh )

OKURI JIYU IPPON KUMITE (Pertarungan Semi Bebas Dua Langkah)
Metode ini sama dengan Jiyu Ippon, masing-masing karateka memulai dengan Kamae dan karateka pertama memberitahukan target sasaran atau tehnik yang akan digunakan. Karateka kedua memfokuskan pikiran tangkisan dan menyerang balik dengan menjawab Osu! Setelah karateka Bertahan melakukan tangkisan dan serangan balik, Karatek Penyerang melakukan serangan kedua tanpa memberitahukan target sasaran dan tehnik yang dia gunakan. Karateka penyerang harus memilih target sasaran dan tehnik yang sesuai dengan kesempatan terbaik  dan mengarahkan Karateka Bertahan kedalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, membuat pertahanan menjadi sulit dilakukan. Karateka Bertahan melakukan tangkisan yang tepat dan serangan balik, menarik kembali setelah serangan balik untuk kamae dan membangun kembali Zanshin (Kesadaran penuh ). Karateka harus memperlihatkan semangat dan control yang baik, memastikan pernafasan dan sikap dilakukan dengan benar dan kime disetiap tehnik yang dilakukan.
Tujuan
Okuri-Jiyu Ippon Kumite adalah langkah pertama dalam pertarungan gaya bebas. Karateka dilatih untuk melihat keuntungan, pembukaan sebuah serangan, bertahan dari serangan yang tidak diharapkan, melihat posisi terbaik setelah bertahan untuk melakukan serangan balik. Zanshin !

JIYU KUMITE (Pertarungan Gaya Bebas)
Pada dasarnya hanya dapat dilakukan oleh karateka yang memiliki pengetahuan Kihon yang baik, Maai (jarak), ketepatan waktu, koordinasi, dan yang lebih penting control yang baik. Gaya Bebas hanya dilakukan dengan pengarahan yang ketat dan didalam peraturan dan pengawasan yang tegas. Wasit harus menjelaskan peraturan dan perintah-perintah yang akan dia gunakan dalam memulai dan mengakhiri serangan, dan akan menanyakan kepada kedua karateka apakah mereka mengerti. Karateka memberi hormat kepada wasit dan kepada karateka yang menjadi lawannya dengan perintah Kamae. Ketika wasit memerintahkan Hajime (mulai) kedua karateka bergerak untuk menemukan posisi terbaik untuk menyerang, sambil melindungi diri dari serangan mendadak dari musuh. Semangat yang baik harus diperlihatkan selama pertarungan,“Kiai” setiap melakukan tehnik menyerang dan melakukan semua tehnik dengan benar, memberikan perhatian kepada pernafasan, jarak, ketepatan waktu dan Kime.
Tujuan
Untuk meningkatkan control, tehnik, ketepatan waktu, konsentrasi dan kesadaran penuh dibawah tekanan pertarungan sesungguhnya. Sekarang dengan lebih banyak latihan, semuah tehnik akan menjadi gerakan refleks ( motor responses )

Minggu, 16 Oktober 2011

KETERTELUSURAN PENGUKURAN


Ketertelusuran (mampu telusur - traceability)

*Adalah sifat dari suatu hasil pengukuran yang dapat dikaitkandengan standar tertentu yang tepat, umumnya standar nasional atau internasional, melalui rantai pembanding yang tak terputus.

* Adalah kemampuan dari suatu pengukuran secara individual untuk dihubungkan ke; Standar nasional/internasional untuk satuan ukuran Dan/atau sistem pengukuran yang disahkan secara nasional maupun internasional melalui suatu rantai perbandingan yang tak terputus 

Standar Internasional (SI) terdiri dari 7 satuan :
1. Panjang (length) = meter, m
2. Massa (mass) = kilogram, kg
3. Waktu (time) = second, s
4. Arus listrik (electric current) = ampere, A
5. Tempereatur (dynamic temperature) = Kelvin k
6. Intensitas cahaya/lumen (luminous intensity) = candela (cd)
7. Kuantitas zat (amount of substance) = mole (mol)

1 - 6 : unit besaran fisika ; 7 : unit besaran kimia

Hirarki standar-standar
1. Standar Primer :memiliki kualitas metrologi yang tertinggi
2. Standar Internasional :diakui oleh internasional dan digunakan sebagai standar untuk acuan internasional
3. Standar Nasional :diakui oleh nasional dan digunakan sebagai standar untuk acuan nasional
4. Standar acuan :memiliki kualitas metrologi tertinggi di lokasi atau organisasi tertentu dan digunakan sebagai acuan tertinggi untuk pengukuran di situ
5. Standar transfer :standar yang dipakai sebagai pembanding untuk mengkalibrasi standar lain
6. Standar traveling :standar yang dapat dibawa ke lokasi lain
7. Standar kerja :dikalibrasi dengan standar acuan, digunakan untuk kalibrasi rutin peralatan pengukuran

Kamis, 13 Oktober 2011

STANDARISASI...sebuah Filosofi

Beberapa tahun yang lalu majalah “Le Courrier de la Normalisation”, majalah
Standardisasi AFNOR (Association Francaise de Normalisation) menerbitkan sebuah karangan oleh M. Romieu dengan judul “La Normalisation, c’est elle une humanisme?” (Apakah standardisasi itu suatu kemanusiaan?). Dalam karangan tersebut penulis mengemukakan bahwa misi standardisasi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dapat ditambahkan bahwa sebagaimana halnya dengan humanisme, ia terdiri dari sistem gagasan berdasarkan kebutuhan dan harapan manusia, dan standardisasi mencoba untuk menjawab tantangan ini.

Memang, jika kita membahas kualitas atau mutu, pertama-tama harus dicamkan kualitas hidup masyarakat/manusia, karena tanpa hal ini standardisasi dan kualitas hanya merupakan wacana belaka. Pada tahun 1994 dalam seminar yang diselenggarakan oleh ISO dan IRAM di Argentina, salah satu wakil dari ISO mengusulkan bahwa standardisasi dan kualitas harus didasarkan pada sedikit-dikitnya dua tonggak dasar yaitu etika dan kebudayaan. Jika kita sepakat bahwa dua pendapat tersebut merupakan suatu kebenaran,maka tiga konsep falsafah dasar yang terkait erat dengan standardisasi yaitu: kualitas hidup yang lebih baik, etika dan kebudayaan, harus ditanamkan pada manusia sejak dini, mulai dari massa kanak-kanak hingga dewasa. Terutama ketika mereka mulai memegang peran dalam masyarakat sebagai orang tua, guru, karyawan atau peran lain tertentu dalam kehidupan.

Semua tipe standar yang dikembangkan, diterbitkan dan diterapkan oleh organisasi nasional, regional, internasional atau asosiasi, bermanfaat untuk membangun suatu budaya berbasis - konsensus yang bersifat universal dan bertujuan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk saling berkomunikasi, meningkatkan dan memperbaiki saling pengertian antar masyarakat, meningkatkan kualitas hidup atau memfasilitasi perdagangan.

Semua standar yang mencakup definisi, lambang, satuan ukuran, metode gambar, spesifikasi produk, sistem manajemen, metode uji dan metoda analisa, metode pengambilan contoh, standar produk, proses dan jasa, kualitas dan keselamatan, bila diterapkan dengan benar akan menghasilkan sesuatu bagi masyarakat, konsumen dan pemakai yang seharusnya lebih baik dan lebih handal. Standar juga dapat dijadikan bahan pembelajaran dan pelatihan bagi sumber daya manusia atau digunakan untuk meningkatkan pemahaman pengetahuan teknis, alih teknologi, landasan untuk inovasi.

Salah satu contoh yang jelas adalah peningkatan kualitas hidup terkait dengan standar yang mencakup aspek yang berkaitan langsung dengan hajat hidup masyarakat seperti standar di bidang K3L (kesehatan, keselamatan, keamanan dan lingkungan hidup), standar di bidang ergonomi, lingkungan hidup, pangan, kesehatan, keamanan dan bahan-bahan berbahaya. Tujuan utama dari standar tersebut adalah agar manusia dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka dengan menekan kemungkinan terjadinya kerugian, ketidaknyamanan atau ketidak amanan penggunaan produk atau jasa di masa sekarang atau mendatang.

Bila kita pelajari dengan seksama dan menghayati ayat-ayat seperti tercantum di bawah ini yang juga dikemukakan di semua buku suci agama telah membuktikan bahwa sesungguhnya falsafah standardisasi telah di “wahyukan” ribuan tahun yang lalu. Hanya kitalah yang kurang menyimak dan memaknainya. Allah SWT memerintahkan pada umat manusia agar tidak melakukan kecurangan pada sukatan dan timbangan sebagaiman
firman Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Muthafifin (1-3 dan 4-6):
Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima sukatan dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila menyukat
atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu mengira
bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari besar, pada hari
manusia berdiri dihadapan Tuhan semesta alam
”.